Cangkok dan Menyambung(Grafting) atau Enten -- Laporan Pratikum Biologi

I.PENDAHULUAN
Setiap macam tumbuhan mampu membiak dirinya dengan cara aseksual dan juga seksual. Pada reproduksi aseksual, turunan yang baru dihasilkan oleh satu tetua. Reproduksi aseksual hanyalah merupakan cara alternatif untuk menghasilkan keturunan, suatu alternatif dengan keuntungan (dan kerugian) khusus dirinya sendiri. Kendati setiap organ tubuh tumbuhan ditentukan fungsinya untuk reproduksi aseksual, namun batanglah yang umum dipakai. Pada beberapa spesies, batang bawah tanah melengkung danberapakar di ujungnya, sehingga terbentuklah individu baru. Batang horizontal (stolon) pada stroberi membentuk anak tanaman yang baru dan akhirnya menjadi tanaman terpisah. Tumbuhan yang membentuk batang bawah tanah (rizom, umbi, kormus, dan tuber) menggunakannya untuk reproduksi dan juga untuk menyimpan makanan. Beberapa tumbuhan dapat membentuk individu baru dari akarnya, dan beberapa menggunakan daun untuk melakukan hal ini. Selain itu beberapa spesies menggunakan biji untuk bereproduksi secara aseksual (disebut apomiksis).
<script src="http://kumpulblogger.com/script_ppa.php?userid=349277" type="text/javascript"></script>
Karena tanaman tertentu mungkin mempunyai cirri-ciri yang amat diinginkan, maka tanaman sering disengaja untuk diperbanyak secara aseksual. Setek dapat diambil dari tanaman inang dan diakarkan. Grafting (menempel) adalah cara yang alzim untuk memperbanyak varietas rumpun atau yang diinginkan. Hanyalah para penjual bibit atau pohon menumbuhkan pohon apel dari biji-bijinya. Yang dimaksud bukan memeliharanya untuk buah melainkan untuk perakaran yangkuat. Setelah tumbuh satu tahun, bagian di atas tanah dipotong dan ditempelkan ranting (sion, batang atas) yang diambil dari pohon matang dengan varietas yang diinginkan pada batang bawah. Selama kambium batang atas dan bawah bersatu dan dicegah adanya infeksi dan kekeringan, maka sion itu akan tumbuh serta mendapat air dan mineral dari perakaran batang bawah. Akan tetapi, buah yang terbentuk akhirnya akan sama dengan buah dari pohon induknya, asal batang sionnya.
Pada semua reproduksi aseksual, keturunannya identik dalam setiap segi dengnan tertuanya selama mereka dipelihara dalam kondisi yang sama dengan kondisi tertuanya. Jika spesies tertentu berhasil dalam habitatnya, maka setiap variasi yang terwariskan pada keturunannya itu dapt merugikan. Reproduksi aseksual adalah cara untuk memperoleh idividu-individu baru yang mungkin saja tidak memperlihatkan varietas seperti itu (KIMBALL,1991).
Dari suatu tumbuhan dapat diperoleh tumbuhan baru, dengan lain perkataan : tumbuhan dapat memperbanyak diri atau berkembang biak. Yang dapat menjadi tumbuhan baru adalah suatu bagian tubuh tumbuhan, yang kemudian memisahkan diri atau oleh manusia dengan sengaja dipisahkan dari tumbuhan yang lama. Bagian tubuh tumbuhan yangkemudian dapat tumbuh menjadi individu baru itu dinamakan : alat perkembangbiakan (organum reproductivum, diaspora, propagulum, dissseminulum)
Bagian tubuh tumbuhan yang dapat merupakan alat perkembangbiakan sangat bermacam_macam, oleh sebab itu alat perkembangbiakan dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu :
1) Alat perkembangbiakan vegetatif atau a-seksual, yaitu bagian tubuh tumbuhan yang dapat menjadi individu baru, sedangkan terjadinya bagian tadi tidak didahului oleh suatu peristiwa perkawinan (peleburan sel kelamin jantan dan betina).
2) Alat perkembangbiakan generative atau seksual, yaitu alat perkembangbiakan yang terjadinya didahului oleh peristiwa perkawinan.
Pada tumbuhan berbiji dapat kita jumpai kedua golongan alat perkembangbiakan itu, dan selanjutnya alat perkembangbiakan yang vegetatif ini masih dapat dibedakan lagi dalam :
a) Alat perkembangbiakan vegetatif alami , yang terjadi menurut sifat pembawaan tumbuhan itu sendiri, misalnya : umbu batang, umbi lapis, rimpang, geragih dan anakan.
b) Alat perkembangbiakan vegetatif buatan, yang hanya terjadi karena perbuatan sengaja oleh manusia, misalnya :
Setek atau lurus, yaitu suatu bagian alat hara yang dipotong (dipisahkan dari induknya) dan kemudian dapat tumbuh menjadi tumbuhan baru. Setek dapat dibedakan menjadi :
Setek batang, contohnya pada penanaman ubi kayu (Manihot utilissima).
Setek akar, contohnya pada penanaman sukun (Artocarpus communis).
Setek daun, contohnya pada cocor bebek dan teh (Camelia sinensis).
Cangkokan, seperti setek batang, tetapi semula dibuat luka melingkar dengan mengelupas kulit batang, kemudian ditutup dengan tanah dan selalu dibasahi, hingga keluar akar dari bagian tersebut, baru bagian batang itu dipotong di bawah tempat keluarnya akar itu.
Pada umumnya perkembangbiakan secara vegetatif diterapkan dengan tujuan-tujuan khusus, misalnya :
Karena tumbuhan itu hanya mungkin dikembangbiakkan dengan jalan vegetatif saja.
Supaya tumbuhan baru lekas berbuah.
Tidak perlu menunggu terlalu lama, sudah dapat memperbanyak tumbuhan.
Untuk mendapatkan tumbuhan yang mempunyai sifat-sifat yang sama seperti induknya.
(GEMBONG,1985). 


Penyambungan atau enten (grafting) adalah penggabungan dua bagian tanaman yang berlainan sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan yang utuh dan tumbuh sebagai satu tanaman setelah terjadi regenerasi jaringan pada bekas luka sambungan atau tautannya.
. Bagian bawah (yang mempunyai perakaran) yang menerima sambungan disebut batang bawah (rootstock atau understock) atau sering disebut stock.
• Bagian tanaman yang disambungkan atau disebut batang atas (scion) dan merupakan sepotong batang yang mempunyai lebih dari satu mata tunas (entres), baik itu berupa tunas pucuk atau tunas samping.
Penyambungan batang bawah dan batang atas ini biasanya dilakukan antara dua varietas tanaman yang masih dalam spesies yang sama. Misalnya penyambungan antar varietas pada tanaman durian. Kadang-kadang bisa juga dilakukan penyambungan antara dua tanaman yang berlainan spesiesnya tetapi masih dalam satu famili. Tanaman mangga (Mangifera indica) disambung denga tanaman kweni (Mangifera odorata).
a. Manfaat sambungan pada tanaman:
• Memperbaiki kualitas dan kuantitas hasil tanaman, dihasilkan gabungan tanaman baru yang mempunyai keunggulan dari segi perakaran dan produksinya, juga dapat mempercepat waktu berbunga dan berbuah (tanaman berumur genjah) serta menghasilkan tanaman yang sifat berbuahnya sama dengan induknya.
• Mengatur proporsi tanaman agar memberikan hasil yang lebih baik, tindakan ini  dilakukan khususnya pada tanaman yang berumah dua, misalnya tanaman melinjo.
• Peremajaan tanpa menebang pohon tua, sehingga tidak memerlukan bibit baru dan menghemat biaya eksploitasi. Peremajaan total berlaku sebaliknya.
b. Syarat batang bawah untuk sambungan:
• Dapat menggunakan biji asalan atau "sapuan” untuk menghasilkan batang bawah, tetapi ada varietas durian yang baik khusus untuk batang bawah yaitu varietas bokor dan siriwig, karena biji besar sehingga mampu menghasilkan sistem perakaran yang baik dan tahan terhadap busuk akar.
• Berdiameter 3-5 mm, berumur sekitar 3-4 bulan.
• Dalam fase pertumbuhan yang optimum (tingkat kesuburannya baik), kambiumnya aktif, sehingga memudahkan dalam pengupasan dan proses merekatnya mata tempel ke batang bawah.
• Disarankan penyiraman cukup (media cukup basah).
• Batang bawah dipupuk dengan Urea 1-2 minggu sebelum penempelan.
• Gunakan media tanam dengan komposisi tanah subur : tanah, pupuk kandang : sekam padi (1:1:1).
• Gunakan polybag ukuran 15x20 cm yang sanggup bertahan dari biji sampai 3 bulan siap tempel sampai dengan 3 bulan setelah tempel, setelah periode tersebut polybag harus diganti dengan ukuran yang lebih besar 20x30 cm, atau langsung ke polybag 30x40 cm tergantung permintaan pasar dan seterusnya semakin besar pertumbuhan tanaman maka ukuran polybag semakin besar. Kecuali untuk pengangkutan jarak jauh dalam jumlah banyak maka gunakan polybag yang lebih kecil dari biasanya.
c. Syarat batang atas untuk sambungan
• Batang atas atau entres yang akan disambungkan pada batang bawah diambil dari pohon induk yang sehat dan tidak terserang hama dan penyakit.
• Pengambilan entres ini dilakukan dengan menggunakan gunting setek atau silet yang tajam (agar diperoleh potongan yang halus dan tidak mengalami kerusakan) dan bersih (agar entres tidak terkontaminasi oleh penyakit).
• Entres yang akan diambil sebaiknya dalam keadaan dorman (istirahat) pucuknya serta tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda (setengah berkayu).
• Panjangnya kurang lebih 10 cm dari ujung pucuk, dengan diameter sedikit lebih kecil
atau sama besar dengan diameter batang bawahnya.
• Entres dalam keadaan dorman ini bila dipijat dengan dua jari tangan akan terasa padat, tetapi dengan mudah bisa dipotong dengan pisau silet. Selain itu bila dilengkungkan keadaannya tidak lentur tetapi sudah cukup tegar.
• Entres sebaiknya dipilih dari bagian cabang yang terkena sinar matahari penuh (tidak ternaungi) sehingga memungkinkan cabang memiliki mata tunas yang tumbuh sehat dan subur.
• Bila pada waktunya pengambilan entres, keadaan pucuknya sedang tumbuh tunas baru (trubus) atau sedang berdaun muda, maka bagian pucuk muda ini dibuang dan bagian pangkalnya sepanjang 5-10 cm dapat digunakan sebagai entres.
• Pada durian bila entres yang digunakan berasal dari cabang yang tumbuh tegak lurus, maka bibit sambungannya akan tumbuh tegak dengan percabangan ke semua arah atau simetris.
• Namun bila diambil dari cabang yang lain,pertumbuhan bibitnya akan mengarah ke samping, berbentuk seperti kipas.Bentuk ini berangsur-angsur hilang bila tanaman menjelang dewasa.
d.Tipe sambungan jika ditinjau dari bagian batang bawah yang disambung:
1. Sambung pucuk (top grafting)
Sambung pucuk merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian atas atau
pucuk dari batang bawah. Caranya sebagai berikut:
• Memilih batang bawah yang diameter batangnya disesuaikan dengan besarnya batang atas. Tanaman durian, belimbing dan sirsak sudah bisa disambung bila besarnya batang bawah sudah sebesar ujung pangkal lidi. Alpukat, manggis dan mangga disambung bila batangnya sudah sebesar pensil. Umur batang bawah pada keadaan siap sambung ini bervariasi antara 1-24 bulan, tergantung jenis tanamannya. Untuk durian umur 3-4 bulan, mangga dan alpukat umur 3-6 bulan. Manggis pada umur 24 bulan baru bisa disambung karena sifat pertumbuhannya lambat.
• Batang bawah dipotong setinggi 20-25 cm di atas permukaan tanah. Gunakan silet, pisau okulasi atau gunting setek yang tajam agar bentuk irisan menjadi rapi. Batang bawah kemudian dibelah membujur sedalam 2-2,5 cm.
• Batang atas yang sudah disiapkan dipotong, sehingga panjangnya antara 7,5-10 cm. bagian pangkal disayat pada kedua sisinya sepanjang 2-2,5 cm, sehingga bentuk irisannya seperti mata kampak. Selanjutnya batang atas dimasukkan ke dalam belahan batang bawah.
• Pengikatan dengan tali plastikyang terbuat dari kantong plastik ½ kg selebar 1 cm. Kantong plastik ini ditarik pelan-pelan, sehingga panjangnya menjadi 2-3 kali panjang semula.Terbentuklah pita plastik yang tipis dan lemas.
• Pada waktu memasukkan entres ke belahan batang bawah perlu diperhatikan agar kambium entres bisa bersentuhan dengan kambium batang bawah. Sambungan kemudian disungkup dengan kantong plastik bening.Agar sungkup plastik tidak lepas bagian bawahnya perlu diikat.Tujuan penyungkupan ini untuk mengurangi penguapan dan menjaga kelembaban udara di sekitar sambungan agar tetap tinggi.
• Tanaman sambungan kemudian ditempatkan di bawah naungan agar terlindung dari
panasnya sinar matahari. Biasanya 2-3 minggu kemudian sambungan yang berhasil
akan tumbuh tunas. Sambungan yang gagal akan berwarna hitam dan kering. Pada
saat ini sungkup plastiknya sudah bisa dibuka.Namun, pita pengikat sambungan baru boleh dibuka 3-4 minggu kemudian. Untuk selanjutnya kita tinggal merawat sampai bibit siap dipindah ke kebun.
2. Sambung samping (side grafting)
Pada dasarnya, pelaksanaan sambung samping sama seperti pelaksanaan model sambung pucuk. Sambung samping merupakan cara penyambungan batang atas pada bagian samping batang bawah. Caranya sebagai berikut:
• Batang bawah dipilih yang baik. Ukuran batang atas tidak perlu sama dengan batang
bawah, bahkan lebih baik dibuat lebih kecil.
• Pada batang bawah dibuat irisan belah dengan mengupas bagian kulit tanpa mengenai kayu atau dapat juga dengan sedikit menembus bagian kayunya. Irisan kulit batang bawah dibiarkan atau tidak dipotong.
• Batang atas dibuat irisan meruncing pada kedua sisinya. Sisi irisan yang menempel pada batang bawah dibuat lebih panjang menyesuaikan irisan di batang bawah dari sisi luarnya.
• Batang atas tersebut disisipkan pada irisan belah dari batang bawah. Dengan demikian, batang bawah dan batang atas akan saling berhimpitan. Kedua lapisan kambium harus diusahakan agar saling bersentuhan dan bertaut bersama.
• Setelah selesai disambungkan, sambungan tersebut diikat dengan tali plastik. Untuk menjaga agar tidak terkontaminasi atau mengering, sambungan dan batang atas ditutup dengan kantong plastik.
• Setelah batang atas menunjukkan pertumbuhan tunas, kurang lebih 2 minggu setelah penyambungan, kantong plastik serta tali plastik bagian atas sambungan dibuka lebih dulu, sedangkan tali plastik yang mengikat langsung tempelan batang atas dan kulit batang bawah dibiarkan, sampai tautan sambungan cukup kuat.
• Bilamana sudah dipastikan bahwa batang atas dapat tumbuh dengan baik, bagian batang bawah di atas sambungan dipotong. Pemotongan perlu dilakukan supaya tidak terjadi kompetisi kebutuhan zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan lanjutan dari batang atas.
1. Pemotongan batang bawah 
2. Pembelahan batang bawah
3. Melancipkan 2 sisi pangkal batang atas 
4. Batang atas siap disambungkan
5. Batang atas disambungkan dengan batang bawah
6. Pengikatan dengan tali plastik
7. Sambungan telah diikat 
8. Sambungan diselubungi dengan kantong plastik
9. Sambungan telah jadi dan bertaut ditandai keluarnya kuncup daun
Mencangkok
Tehnik perbanyakan vegetatif dengan cara pelukaan atau pengeratan cabang pohon induk dan dibungkus media tanam untuk merangsang terbentuknya akar. Pada tehnik ini tidak dikenal istilah batang bawah dan batang atas. Tehnik ini relatif sudah lama dikenal oleh petani dan tingkat keberhasilannya lebih tinggi, karena pada cara mencangkok akar tumbuh ketika masih berada di pohon induk.
• Keuntungan pembibitan dengan sistem cangkok:
o Produksi dan kualitas buahnya akan persis sama dengan tanaman induknya.
o Tanaman asal cangkok bisa ditanam pada tanah yang letak air tanahnya tinggi atau di pematang kolam ikan.
• Kerugian pembibitan dengan sistem cangkok:
o Pada musim kemarau panjang tanaman tidak tahan kering.
o Tanaman mudah roboh bila ada angin kencang karena tidak berakar tunggang.
o Pohon induk tajuknya menjadi rusak karena banyak cabang yang dipotong.
o Dalam satu pohon induk kita hanya bisa mencangkok beberapa batang saja, sehingga perbanyakan tanaman dalam jumlah besar tidak bisa dilakukan dengan cara ini.
• Media untuk mencangkok bisa menggunakan cocopit atau serbuk sabut kelapa ataupun cacahan sabut kelapa. Dapat pula digunakan campuran kompos/pupuk kandang dengan tanah (1:1). Kalau disekitar kebun ada tanaman bambu, maka tanah di bawah bambu yang telah bercampur seresah daun bambu dan sudah membusuk bisa juga digunakan untuk media cangkok.
• Waktu pelaksanaan sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan, sehingga cangkokan tidak akan kekeringan. Selain itu dengan mencangkok di awal musim hujan akan tersedia waktu untuk menanam hasil cangkokan pada musim itu juga.
a.Tehnik mencangkok secara konvensional (biasa dilakukan)
• Pertama-tama kita pilih cabang yang sudah sehat dan kuat atau sudah berkayu.
• Ukuran diameternya sekitar 0,5-2 cm, tidak lebih kecil dari ukuran pensil.
• Sebaiknya warna kulit cabang coklat muda atau hijau kecoklatan tergantung jenis
tanaman buah-buahannya.
• Cabang kemudian disayat dengan pisau secara melingkar dan dibuat memanjang ke
bawah sepanjang 3-5 cm atau dua kali diameter cabang.
• Kemudian kulitnya dikelupas sehingga bagian kambium yang seperti lendir tampak jelas. Kambium ini dihilangkan dengan cara dikerik dengan mata pisau sehingga bersih atau kering.
• Setelah dikerik pada keratan bagian atas diolesi ataupun tanpa diolesi dengan hormon tumbuh. Sebagai hormon pertumbuhan atau vitamin, contoh Liquinox Start Vitamin B-1 yang banyak dijual di toko pertanian dengan dosis 2 cc untuk 1 liter air. Kalau kesulitan mencari hormon tumbuh dapat menggunakan pupuk Urea yang dicairkan dengan kadar 1 % atau 1 gr/1 lt air atau hormon tersebut ditambahkan pada media cangkok.
• Siapkan dan atur lembaran plastik (kantong plastik yang sudah dibuka/dibelah) atau sabut kelapa melingkar menyelubungi batang di bagian bawah keratan (1-2 cm).Posisi lembaran plastik menghadap ke arah bawah, kemudian diikat dengan tali plastik atau rafia. Balik posisi kantong plastik ke arah berlawanan/keatas, sehingga akan diperoleh ikatan tali plastik di dalam kantong plastik (ikatan bagian bawah tidak kelihatan dari luar/lebih rapi).
• Selanjutnya bekas sayatan ditutup dengan media cangkok, media diatur penempatannya agar rata menutupi luka keratan sampai melewati luka keratan bagian atas (1-2 cm).
• Lakukan pengikatan bagian atas dan bagian tengah plastik(kalau dibutuhkan).
• Cangkokan dirawat dengan cara disiram secara rutin agar tidak kering atau diposisi atas cangkokan diberi kantong plastik berisi air dengan satu lubang sekecil jarum untuk irigasi tetes.Atau irigasi tetes dengan menggunakan potongan batang bambu "bumbung" berdiameter 5 cm diisi dengan air, tanpa dilubangi hanya dikerik/dikupas sedikit bagian kulit bawah yang nantinya dilekatkan diatas media cangkokan. Posisi bumbung digantung diatas cangkokan dengan posisi bawah bumbung merapat dengan posisi tengah cangkokan atau ditalikan melekat dicangkokan. Bumbung ini dapat bertahan selama 3 hari. Biasanya setelah 2-3 bulan pada cangkokan yang berhasil akan tumbuh akar.
• Pada cangkok akar keluar karena aliran zat makanan (karbohidrat) dan auksin (hormon tumbuh yang mendorong keluarnya akar) mengalir ke bawah melalui kulit kayu (phloem) dan tertahan di bagian keratan sebelah atas, sehingga pada keratan bagian atas ini penimbunan karbohidrat dan hormon jadi meningkat dan berbentuk kalus yang berubah menjadi akar tanaman.
• Apabila akar sudah memenuhi media, hasil cangkokan dianggap berhasil. Daun pada cabang terlihat segar. Cangkokan sudah bisa dipotong atau disapih dari induknya. Pemotongan cangkokan yang sudah tumbuh ini dilakukan dengan menggunakan gunting stek atau gergaji di bawah ikatan cangkok.
• Setelah dipotong dari induknya sebagian daun dikurangi untuk menghindari penguapan yang berlebihan. Potong 1/2 - 1/3 helai daun dari seluruh daun yang ada dengan gunting stek. Plastik pembungkus media dilepaskan. Setelah itu cangkok disemaikan dalam polybag.
• Sebagai media cangkok di polybag bisa digunakan campuran pupuk kandang dan tanah dengan perbandingan 1: 2. Selanjutnya polybag ini ditempatkan di tempat yang terlindung sampai cangkokan menjadi segar kembali (biasanya 3-4 bulan). Setelah cukup besar cangkokan bisa dipindah ke kebun.
1. Pengupasan kulit batang 
2. Pengikatan lembaran plastik di bawah kupasan kulit daun
3. Pengisian media ke dalam lembaran plastik
4. Tehnik pencangkokan konvensional telah selesai
• Isikan media dan padatkan sampai ¾ plastik, kemudian tarik ujung kantong plastik dan ditalikan. Dari 2 kg media akan dihasilkan 15-20 media dalam kantong plastik. Media dalam kantong plastik tersebut tahan sampai dengan 1 bulan.
• Cara penggunaan media tersebut tinggal menyobek/mengiris memanjang satu sisi kantong plastik dan sisi sobekan tadi dimasukkan dari bagian bawah luka bila posisi batang melintang atau datar, pada posisi batang tegak memasukkan bebas,kemudian diselubungkan secara merata ke keratan batang tanaman.
• Dilakukan pengikatan, agar media pada posisi yang benar (letak sobekan menghadap ke atas (bila posisi batang mendatar) dan media rata menyelubungi/menutup keratan/luka di batang tanaman)
• Dengan tehnik ini diperoleh keuntungan:
o Pencangkokan lebih cepat dan ringkas.
o Jumlah tanaman yang kita cangkok bisa lebih banyak per satuan waktu.
o Kita punya persediaan media dalam kantong plastik yang mudah dibawa kemanamana dan mudah dipakai sewaktu-waktu.
1. Pengupasan kulit batang 
2. Pembukaan kantong plastik berisi media
3. Cabang yang sudah dikupas kulitnya dimasukan ke dalam kantong media
4. Tehnik pencangkokan yang efektif dan efisien telah selesai
(NUGROHO, 2006)
II.TUJUAN
Memiliki keterampilan untuk mencangkok dan menyambung  (perkembangbiakan vegetatif buatan).
Mengetahui hal-hal yang mempengaruhi perkembangan cangkok dan sambung atau enten.
III.ALAT DAN BAHAN
3.1) Alat : pisau atau cutter,plastik pengikat, tali (raffia), plastik pembungkus.
3.2) Bahan : tanaman (jambu air atau Eugenia aquea), tanah subur.
IV.CARA KERJA
4.1) Cangkok :
1. Pilih cabang tanaman yang tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua.
2. Kupas cabang hingga bersih atau kambiumnya hilang sepanjang 5-10 cm. dengan cara dikerik dengan cutter dan setelah itu dilap, pastikan benar-benar kering. 
3. Ikatkan plastik pembungkus dengan rafia pada bagian bawah luka (bagian yang dikupas).
4. Angkat menghadap ke atas plastik pembungkus yang diikat pada bagian bawah tadi (hingga membentuk kantong) kemudian isi kantong tersebut dengan tanah.
5. Ikat plastik pembungkus dengan rafia pada bagian atas (setelah diisi tanah).
6. Beri lubang pada plastik cangkokkan untuk penyiraman.
7. Sirami cangkokan secara rutin.
8. Amati perkembangannya setiap tiga hari sekali.
4.2) Sambung atau enten :
1. Pilih cabang tanaman yang cukup usia atau tidak terlalu muda.
2. Potong bagian tanaman yang akan disambung (potongannya bias menyamping 45o.
3. Setelah bagian tanaman tersebut terpotong, sambungkan kembali pada gaian awal tadi dengan cepat (jangan sampai lendirnya kering).
4. Ikat atau bungkus bagian yang disambung tadi dengan plastik pengikat (pastikan kedua bagian benar-benar tersambung dengan baik). Dan 2 potong ranting kecil sebagai penyokong ditaruh di kedua sisi sambungan.
5. Amati perkembangannya setiap tiga hari sekali..
V.HASIL PENGAMATAN 
5.1) Cangkok :
Tanggal pengamatan Gambar atau foto Keterangan
29 Oktober 2011 Belum ada perubahan
1 November 2011 Belum ada perubahan
4 November 2011 Belum ada perubahan
7 November 2011 Muncul calon akar
10 November 2011 Calon akar mulai membanyak
13 November 2011 Timbulnya akar
16 November 2011 Akar mulai memanjang
19 November 2011 Akar serabut mulai memanjang
21 November 2011 Adanya akar 
24 November 2011 Ada akar
27 November 2011 Ada akar

5.1) Sambung atau enten :
Tanggal pengamatan Gambar atau foto keterangan
29 Oktober 2011 Belum ada perubahan
1 November 2011 Warna daun menjadi coklat.
<script src="http://kumpulblogger.com/flbanner.php?b=219421&sz=300x250" type="text/javascript"></script>
4 November 2011 Mulai terjadi kerontokan pada daun.
7 November 2011 Daun rontok , tidak ada daun lagi.
10 November 2011 Belum ada tanda pertunasan
13 November 2011 Sambungan berwarna coklat
16 November 2011 Cabang mengering
19 November 2011 Cabang mengering
21 November 2011 Cabang mengering
24 November 2011 Cabang mengering
27 November 2011 Cabang mengering

VI. PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan sebelumnya, kita mulai dengan membahas cangkok terlebih dahulu. Hasil pengamatan dari hari pertama sampai hari ke duabelas, akar belum timbul. Tetapi setelah hari ke lima belas muncul akar-akar kecil, hal ini bisa kita pelajari, sesuai dengan landasan teori dimana pembersihan kambium pada batang membuat fungsi kambium sebagai pengganti kulit batang tidak berperan secara sempurna. sehingga akar serabut mulai timbul diujung atas sayatan. Dan proses pertumbuhan akar berlangsung hingga hari terakhir pengamatan. Dapat dilihat akar semakin besar dan panjang, ini menunjukan bahwa proses mencangkok telah berhasil. Mencangkok adalah salah satu perkembangbiakan secara vegetatif, karena tanpa adanya proses peleburan 2 sel gamet. Dan hasil dari proses mencangkok sifatnya sama dengan induknya. Kelebihan dari proses ini adalah proses munculnya buah relatif cepat dan banyak, karena pada percabangan pohon sebelumnya. Setelah proses pencangkokan kita harus memindahkan kedalam media polybag atapun tanah langsung. Dengan cara pembukaan lapisan plastik dan penyiapan media, jangan lupa diberi pupuk untuk mempersubur tanaman. Unjung bawah cangkokan dipotong dan mulai menanam hasil cangkokan kedalam media yang sudah disiapkan.
Menyambung(grafting) atau enten, dari hasil pengamatan dari hari pertama sampai hari ketiga kondisi sampel masih sama, tetapi setelah hari keempat warna daun mulai pucat dan mengering sampai hari ke sembilan daun-daun semua rontok. Pengamatan terus berlangsung tetapi tidak ada perubahan atau munculnya tunas baru pada cabang yang disambung. Berubahnya warna dari hijau menjadi coklat tua mengidikasikan bahwa proses penyambungan telah gagal. Sampai hari yang terakhir pengamatan cabang menjadi kering dan tak ada tunas yang tumbuh. Tetapi kita tarik kembali pada saat melakukan proses penyambungan pisau yang dipakai sebagian hitam atau dalam arti kurang steril. Hal ini menyebabkan infeksi pada cabang yang dipotong. Sedangkan setelah pemotongan cabang, tidak segera disambung hingga kambiunya habis atau kering. Proses menyambung ini adalah salah satu proses dalam hal perbaikan sifat tanaman. Karena dalam satu spesies beda varietas, disatukan hal ini bisa membuat hasil satu tanaman terdapat berbagai hasil yang berbeda sesuai dengan varietas yang disambung kedalam cabang tanaman tersebut. 



VI. KESIMPULAN 
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa mempunyai pengalaman dan ketrampilan dalam hal perkembangbiakan pada tumbuhan secara vegetatif terutama dalam hal mencangkok. Mencangkok adalah cara perkembangbiakan vegetatif yang paling digemari, karena prosesnya mudah dan hasil kemungkinan berhasil sangatlah besar. Dengan hasil yang lebih cepat dan banyak dibanding dengan biji. Sedangkan menyambung atau enten adalah salah satu cara untuk memperbaiki sifat suatu tanaman, sesuai dengan keinginan. Hal ini berguna untuk menjawab kebutuhan hasil pertanian yang semakin meningkat dalam hal selera dan variasi. Karena dalam satu pohon didapati berbagai hasil yang berbeda melalui proses enten pada tiap cabangnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi cangkok yaitu, tidaknya kambium karena bisa membuat munculnya kulit pada batang yang sudah dikupas. Selain itu media tanah yang subur dan basah. Serta penyiraman air secara berkala yang memicu timbulnya akar serabut. Pada proses menyambung, faktor kesamaan spesies walau berbeda varietas bisa berpengaruh pada hasil yang diperoleh, juga kecepatan dalam proses menyambung sehingga kambium tidak sampai menjadi kering. Perlatan yang steril sangat penting untuk diperhatikan, untuk meminimalisir kontaminasi dari luar.

VII. DAFTAR PUSTAKA
Kimball, John. W. 1992. Biologi Umum. Jakarta Erlangga.
Prastowo, Nugroho. H. 2006. Tehnik Pembibitan Dan Perbanyakan Vegetatif 
Tanaman Buah. Bogor : Agroforestry Center ICRAF .
Tjitrosoepomo, Gembong. 2005. Morfologi Tumbuhan cetakan ke-15.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

No comments:

Post a Comment